Nu Tos Ningal Ieu Blog

Jumat, 02 Januari 2009

VCD Alumni SMA Cibatu thn 2005


foto buronan 3IPA2 th 2005


logo VCD smun 1 Cibatu

COVER CD KENANGAN SMAN 1 CIBATU LULUSAN 2005


Sambut Tahun Baru dengan Ikhtiar

Seandainya Persigar dan Persikotas Bangkit

Saya selaku bobotoh Persib keturunan Garut dan Tasikmalaya mengandaikan Persigar dan Persikotas bersaing dengan Persib di kompetisi sepakbola Indonesia (ISL).Hal ini tentu akan berpengaruh pada keberlangsungan tim Persib
Dampak Positif
1. Persigar dan Persikotas akan menjadi lawan Persib yang nyata bukan sekedar lawan sparing semata.Dan pada laga ini terdapat gengsi memperebutkan kekuasaan wilayah Priangan.Sehingga Persib akan mengeluarkan skema permainan terbaiknya.
2. Persepakbolaan Jawa Barat menjadi lebih hidup dan tak pelak lagi menjadi kiblat persepakbolaan nasional yang selama ini dikuasai Jawa Timur dan Papua.
3. Tak dipungkiri lagi bahwa persepakbolaan daerah akan membangkitkan perekonomian daerah tersebut.Mulai dari pembangunan stadion standar LSI,infrastruktur jalan,pemberdayaan ekonomi masyarakat.Sehingga hal ini akan berdampak pada pemerataan pembangunan di Jawa Barat.
4. Akan menjadi faktor pendorong kebangkitan persepakbolaan kota-kota di Jawa Barat.Seperti halnya di Jawa Timur yang mulanya dimonopoli Persebaya sekarang menyebar dan merata dengan hadirnya Petrokimia (Gresik United),Mitra Surabaya,Arema,Deltras,Persik,Persela,Persekabpas dan kota-kota lainnya yang siap hadir di level kompetisi tertinggi Indonesia.Semua itu terjadi karena prestasi Persebaya yang mengkilap dan menjadi inspirasi dan motivasi tim-tim dari Jawa Timur.
· Dampak Negatif
1. Dukungan dari bobotoh Persib asal Garut dan Tasik akan berkurang bahkan akan hilang sama sekali jika prestasi Persib monoton dan laju Persigar meningkat.Distrik-distrik bobotoh di luar Bandung akan bubar karena sebagian besar pengurus dan anggotanya berasal dari luar Bandung (termasuk Garut dan Tasik).
2. Akan tercipta derby Jawa Barat yang seru dan sengit.Yang dikhawatirkan akan terjadi perseteruan yang berujung pada konflik antar supporter karena rasa kedaerahan yang begitu kuat.seperti laga derby di Jawa Timur.
Untuk menghindari dampak negative bisa dipkirkan lebih awal (mulai dari sekarang).

Mungkin Persib dulu pernah tersaingi oleh tim-tim Jawa Barat (Jawa Barat dan Banten) yang berlaga di Liga Indonesia namun basis bobotoh di daerah banten dan bogor raya tetap setia pada Persib dikarenakan kemapanan dan prestasi tim daerahnya sangat pas-pasan dibandingkan dengan Persib.mungkin hanya di Tangerang yang menjamur virus LaViola di tubuh bobotoh tangerang.
Garut dan Tasikmalaya sangat berbeda sekali dengan wilayah banten dan bogor.Karakteristiknya yang sangat keras serta banyak terdapat bibit unggul pemain sepakbola yang handal akan menjadi modal dasar untuk mengarungi kompetisi sepakbola level tertinggi.Yang kurang dari Persigar dan Persikotas adalah pendanaan dan manajemen.Insa Alloh jika pendanaan dan manajemen yang mumpuni tidak mustahil Persigar dan Persikotas akan menjadi Persik part 2
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menggembosi Persib tapi sebagai gambaran persepakbolaan Jawa Barat yang terpuruk (Tugas Berat Pengda PSSI Jawa Barat).Serta suatu angan dari warga Garut dan Tasik yang berharap Persigar mampu bahkan melebihi Persib.
Persib sendiri tentu tidak ingin hanya menjadi penghibur masyarakat Jabar tetapi ingin lebih dari itu diantarnya ingin menjadi inspirasi dan motivasi tim-tin sepakbola di Jabar. Walaupun Persigar dan Persikotas berada di divisi III Tidak ada yang mustahil jikalau ada niat dan usaha.Untuk para pengusaha AsGar dan Tasik saatnya bersatu dan membangun Garut dan Tasik salah satunya dengan berinvestasi di Persigar dan Persikotas.Semoga dengan terpilihnya kepala daerah Garut yang baru akan menjadi titik awal kebangkitan Persigar begitu pula dengan Persikotas.Hal ini tentu saja akan menjadi pemacu semangat Persib yang tentu saja tidak mau digeser Persigar dan Persikotas di tatar Sunda.

Sekarang Persib masih nomer 1 di hatiku tetapi hal itu mungkin akan berubah jikalau Persigar apalagi Persikotas masuk ISL.namun walaupun hal itu terjadi saya tetap segan dan angkat topi terhadap Persib sebagai pionir persepakbolaan di tanah Pasundan.

Salam Bobotoh
ASK-GarTaz
JakTim

Kamis, 04 Desember 2008

SEJARAH TASIKMALAYA

Sejarah Tasikmalaya

Masa sebelum Islam

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Masa kedatangan Islam

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Rakeyan Mundinglaya

SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir

Rakeyan Mundingwangi

SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?

Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati

SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Masa kedatangan Belanda

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, Banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung. Rakeyan Mundinglaya

SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir


Rakeyan Mundingwangi

SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?

Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati

SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Peristiwa Penting

Dalam perjalanannya Tasikmalaya mencatat beberapa peristiwa penting bersejarah antara lain :

Selain itu ada beberapa peristiwa penting yang patut diketahui antara lain :

  • Peristiwa meledaknya pabrik mesiu DAHANA tanggal 5 Maret 1976.
  • Meletusnya Gunung Galunggung tanggal 5 April 1982.
  • Penganugerahan PARASAMYA PURNA KARYA NUGRAHA pada akhir Pelita IV tahun 1989.
  • Sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pertanian, koperasi dan Keluarga Berencana (PERTASI KENCANA) Tingkat Nasional tahun 1994.
  • Terjadinya kerusuhan 26 Desember 1996 yang dikenal dengan peristiwa Desember kelabu.
  • Sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pertemuan petani se Indonesia dan Asia Tenggara (PENAS) Tingkat Nasional tahun 2002.

Prestasi

Prestasi baik di tingkat Nasional maupun internasional, antara lain Solihin, Susi Susanti, Lidya Jaelawijaya, Lamting di bidang olah raga, Abdul Rodjak dan Mak Eroh sebagai perintis lingkungan hidup yang telah mendapatkan penghargaan Kalpataru, dan sejumlah 8 orang pengrajin yang berhasil memperoleh penghargaan Upakarti, prestasi dibidang MTQ, serta prestasi lainnya.

Di bidang kesenian, Tasikmalaya telah pula melahirkan seniman-seniman tingkat nasional, seperti Budayawan Wahyu Wibisana, dan artis-artis nasional.