Nu Tos Ningal Ieu Blog

Jumat, 07 Mei 2010

Kujang Jatidiri Sunda


Sekalipun kujang identik dengan keberadaan kerajaan Pajajaran pada masa silam, namun berita Pantun Bogor (PB) tidak menjelaskan bahwa alat itu dipakai oleh seluruh masyarakat Sunda secara umum. Perkakas ini hanya digunakan oleh kelompok tertentu yaitu para raja, prabu anom, golongan pangiwa, panengen, golongan agamawan, para putrid serta golongan kaum wanita tertentu, dan para kokolot. Sedangkan rakyat biasa menggunakan perkakas-perkakas lain seperti golok, congkrang, sunduk dan sebagainya. Kalau ada yang menggunakan kujang, sebatas jenis pamangkas untuk keperluan berladang.

Setiap pemakai kujang, mempunyai konvensi pembagian bentuk. Hal tersebut ditentukan oleh status sosial masing-masing. Bentuk kujang untuk raja tidak akan sama dengan kujang balapati atau barisan pratulap, dan seterusnya. Melalui pembagian tersebut akan tergambar tahapan fungsi para pejabat yang tertera dalam struktur jabatan Pemerintahan Negara Pajajaran Tengah, seperti termaktub berikut ini Raja, Lengser dan Brahmesta, Prabu Anom, Bojapati; Bopati Panangkes atau Balapati, Geurang Seurat, Bopati Pakuan diluar Pakuan; Patih termasuk Patih Tangtu dan Mantri Paseban; Lulugu; Kanduru; Sambilan; Jero termasuk Jero Tangtu; Bareusan,guru, Pangwereg dan Kokolot.

Jabatan Prabu Anom sampai Berusan, Guru juga Pangwereg, tergabung didalam golongan Pangiwa dan Panengen. Tetapi dalam pemakaian kujang, ditentukan oleh kesejajaran tugas dan fungsinya masing-masing, seperti:

* Kujang Ciung Mata-9, dipakai hanya oleh raja;
* Kujang Ciung Mata-7, dipakai oleh mantri dangka dan Prabu Anom;
* Kujang Ciung Mata-5, dipakai oleh Geurang Seurat, Bopati Panangkes dan Bopati;
* Kujang Jago, dipakai oleh balapati, lulugu dan sambilan;
* Kujang Kuntul, dipakai oleh patih (patih puri, patih taman, patih tangtu, patih jaba dan patih palaju). Juga digunakan oleh mantri (mantri paseban, mantri majeuti, mantri layar, mantri karang dan mantri jero).
* Kujang Bangkong, dipakai oleh guru, sekar, guru tangtu, guru alas dan guru cucuk
* Kujang Naga, dipakai oleh kanduru, jaro (jaro awara, jaro tangtu, jaro gambangan);
* Kujang Badak, dipakai oleh pangwereg, pangwelah, bareusan, prajurit, pratulap, pangawin, sarawarsa dan kokolot.

Selain diperuntukan bagi para pejabat tadi, kujang juga digunakan oleh kelompok agamawan, namun kesemuanya hanya satu bentuk yaitu Kujang Ciung, yang perbedaan tahapnya ditentukan oleh banyaknya “mata”. Kujang Ciung bagi Bramesta (pandita agung) bermata sembilan sama dengan milik raja. Pandita, bermata tujuh. Geurang bermata tiga. Guru Tangtu Agama, bermata satu. Golongan agamawan menyimpan pula kujang pangarak yang bertangkai panjang yang dipakai pada upacara-upacara tertentu seperti Bakti Arakan, Kuwera Bakti dan sebagainya. Dalam keadaan darurat, kujang pangarak bisa saja dipakai untuk menusuk musuh dari jarak yang agak jauh. Fungsi utama kujang bagi golongan agamawan adalah sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh negara.

Kelompok lain yang juga mempunyai kewenangan memakai kujang yaitu perempuan bangsawan pakuan dan golongan yang memiliki fungsi tertentu, seperti: putri raja, putri kabupatian, ambu sukla, ambu geurang, guru aes, dan sukla mayang (dayang kaputren). Kujang bagi para perempuan ini biasanya hanya terdiri dari jenis Ciung dan Kuntul karena bentuknya yang langsing. Demikian pula ukurannya biasanya setengah lebih kecil dari ukuran kujang untuk kaum laki-laki.

Untuk membedakan status pemiliknya biasanya ditentukan oleh banyaknya mata, pamor, dan bahannya. Kujang untuk putri kalangan bangsawan Pakuan biasanya bermata lima, pamor salangkar dan bahannya besi kuning pilihan. Wanita golongan lainnya menggunakan kujang bermata tiga kebawah sampai yang tidak bermata dengan pamor tutul dan bahannya dari besi pilihan.

Kaum perempuan Pajajaran itu, selain menggunakan kujang ada pula yang memakai perkakas “khas perempuan” lainnya, yaitu kudi. Alat ini kedua sisinya berbentuk sama, seperti tidak ada bagian perut dan punggung, juga kedua sisinya tajam bergerigi seperti pada kujang. Ukurannya rata-rata sama dengan kujang bikang (kujang pegangan kaum perempuan). Panjangnya kira-kira satu jengkal termasuk gagangnya. Bahannya dari besi baja, lebih halus dan tidak ada yang memakai mata.

Sumber: Tulisan Iip Dzulkifli

FORUM KI SUNDA SEBAGAI SOLUSI BUDAYA

Forum Ki Sunda lahir dari kesadaran untuk menyelamatkan asset budaya santun yang mulai hilang di kalangan masyarakat Sunda. Selain itu juga untuk memperkuat kembali tali persaudaraan berdasarkan nilai-nilai budaya menuju Bangsa Indonesia yang kuat.

Deklarasi Forum Ki Sunda memproklamirkan diri sebagai Wahana Gerakan Budaya. Forum Ki Sunda ini dideklarasikan pada hari Jumat malam 26 Januari 2001 di Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang Bandung.

Seperti yang terjadi di daerah lain, genderang kultural yang ditabuh forum komunitas masyarakat setempat masih banyak yang membawa nafas gugatan. Dalam hal ini khususnya menyangkut gugatan terhadap Orde Baru yang telah melunturkan identitas budaya lewat uniformnya. Pola yang menyalahi sunatullah pluralitas dan keberagaman, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an (Al-Hujarat:13).

Masyarakat dari berbagai Suku Bangsa di Indonesia termasuk didalamnya Etnis Sunda saat ini tengah merasakan tercabut akar budayanya. Masyarakat Sunda dengan Jatidiri Sunda Sawawa pelan-pelan diserbu budaya baru yang cenderung egosentris, materialistis dan ambisius. Dengan demikian telah ikut menodai sifat bersahabat, ramah dan terbuka dalam pergaulan Masyarakat Sunda yang terkenal someah hade ka semah atau dalam arti ramah dan baik terhadap tamu.

Melalui Forum Ki Sunda ini, menurut salah seorang pendirinya Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj adalah untuk memperkokoh kembali tali persaudaraan berdasarkan nilai-nilai budaya yang dimiliki masyarakat Sunda menuju Bangsa Indonesia yang kuat dan mandiri.

Lebih lanjut Agil katakan, prahara dan ancaman disintegrasi bangsa yang berakar pada disintegrasi budaya maupun moral perlu penyelesaian yang tepat. Kita bisa menarik pelajaran dari apa yang telah dialami Pakistan, Turki dan Sudan. Menurutnya, penyelesaian berdasarkan pendekatan budaya bisa menjadi cermin untuk mengatasi ekses negatif reformasi. Sedangkan cara politik yang sering melahirkan perpecahan dan pertikaian, dianggap telah gagal mengambil peran itu.

Bangsa Indonesia tidak akan kuat oleh reformasi politik. Dengan demikian diperlukan adanya reformasi budaya, moral dan ahlak. Dalam hal ini masyarakat dihimbau agar tidak terlalu berharap banyak terhadap keberadaan partai-partai politik. Nenek moyang kita telah mewariskan nilai-nilai budaya yang unik. Karenanya nilai-nilai itu perlu direvitalisasi dan diangkat sebagai solusi.

Sementara itu Dewan Pangaping Forum Ki Sunda Eddie Soekardi juga menilai kearifan budaya leluhur masih sangat relevan. Misalnya kata-kata arif dari Raja Sunda Padjadjaran Prabu Siliwangi, “Pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana, pakeun nanjeur di buritan.” Adapun artinya, “tegakkan kebajikan agar lama berjaya dibumi, agar menang perang”.

Konsolidasi budaya bukanlah suatu proses instan. Hasil penyelesaian budaya memang lambat, tetapi bisa menjadi fondasi yang kuat. Fundamen itulah yang pada gilirannya diharapkan bisa melahirkan nasionalisme kultural dan religius, yang melampaui nasionalisme teritorial.

Prahara dan ancaman disintegrasi yang berakar pada disintegrasi budaya dan moral perlu penyelesaian yang tepat. Pakistan, Turki dan Sudan menurutnya, bisa menjadi cermin bahwa penyelesaian budaya bisa mengatasi ekses negatif reformasi. Sedangkan cara politik yang sering melahirkan perpecahan dan pertikaian, dianggap telah gagal mengambil peran itu.

Berdirinya Forum Ki Sunda ini menambah daftar organisasi berbasis kultural di Tatar Sunda dalam hal ini Jawa Barat. Hal ini merupakan pertanda semakin banyaknya yang peduli terhadap pentingnya symbol dan nilai kasundaan dalam upaya penemuan kembali jatidiri. Pencarian titik koordinat yang kelak menjadi starting point dalam berbuat.

Tetapi dibalik semua cita-cita rekonstruksi identitas dan karakter Forum Ki Sunda tersebut, sempat mengundang tanya masyarakat terhadap keberadaannya. Karena sederet nama elit organisasi kemasyarakatan tertentu namanya tercantum dalam struktur kepengurusan Forum Ki Sunda. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa Forum Ki Sunda ini merupakan kepanjangan tangan bagi kepentingan partai politik tertentu. Namun tudingan politisasi dan eksploitasi terhadap Budaya Sunda ini dibantah oleh Agil.

“Forum ini steril dari kepentingan politik ataupun primordialisme,” demikian menurut salah seorang pendiri Forum Ki Sunda Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj.

* Sumber: Republika, Senin 29 Januari 2001.

Rabu, 28 April 2010

Go To Priangan

Untuk meningkatkan Jiwa Kepemimpinan wisudawan untuk menjadi "generation of change" generasi pembaharu masyarakat diperlukan suatu pembelajaran yang kuat dan berlanjut. Oleh karena itu, kami Gerakan Pasundan Jaya mengundang saudara untuk terlibat dalam Acara Latihan Dasar Kepemimpinan Wisudawan (LKDW) yang akan dilaksanakan di Priangan Timur (Garut-Tasik-Ciamis) mulai jumat malam, berangkat dari terminal Bekasi (Prima Jasa), Pulang dari Terminal Tasik (Budiman) 30 April 2010 - minggu sore 1 Mei 2010. Untuk pendaftaran bisa hubungi ask_bobotohpersib@yahoo.co.id or 081323382207. Ato "Fauzan Dikatain Stress" di 087877016404.
Rincian biaya : Ongkos PP Rp 125.000 + Biaya makan Rp 50.000 = Rp 175.000 (maksimal cost). Tempat terbatas. Kapan Lagi !!!

Sabtu, 24 April 2010

Wilujeng Sumping di Dunya Faiq (Paik)

14 April 2010, lahir ka dunya pun alo ti lanceuk nomer kadua di RSU Ciamis. Wilujeng Sumping di Dunya tempat neangan bekel ka aherat lo,...Anjeun lalaki sing jadi imam nu adil numutkeun ka ajaran Islam. Jungjung kolot, bangsa sareng agama Bagja di dunya jeung Bagja di aherat.Amin !!!

Selasa, 16 Maret 2010

Arti Sunda

Sunda berasal dari kata Su = Bagus/ Baik, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah dijalankan sejak jaman Salaka Nagara sampai ke Pakuan Pajajaran, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa namun dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya budaya barat lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak manusia Sunda.

Makna kata Sunda sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna kata Sunda itu tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.

Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda. Namun tidaklah heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya kepada bangsa lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki kelebihan. Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita, karena dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih terlihat menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya Sunda, sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya.

Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir.

Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat menjadi bekal keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan watak Sunda itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang sudah lahir sekitar jaman Salakanagara dan Tarumanagara. Ada bentuk lain ucapan sesepuh Sunda yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu menghadapi keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi pelita kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa.

Cara meresapinya dengan memahami artinya. Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme. Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja. Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya. Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.

Sumber: Bapak Eman Sulaeman, Yayasan Hanjuang Bodas, Bogor.

Sabtu, 13 Maret 2010

Dukung Pembentukan Kabupaten Cilacap Barat

Cilacap Barat Dianaktirikan
Gubernur Jateng Tetap Tak Setuju Rencana Pemekaran

Sabtu, 13 Maret 2010 | 12:13 WIB

Cilacap, Kompas - Ketimpangan pembangunan antara Cilacap bagian barat dan timur hingga saat ini tak terselesaikan. Cilacap bagian barat jauh tertinggal dibanding di timur. Kondisi ini menimbulkan kecemburuan warga di barat, sehingga dari waktu ke waktu, semakin kuat desakan kalangan warga di barat untuk memekarkan diri.

"Menurut kami, dengan mata telanjang saja ketimpangan itu sudah terlihat. Paling jelas adalah infrastruktur jalan. Hampir tidak ada jalan negara, provinsi, kabupaten, apalagi jalan desa di Cilacap Barat yang utuh," tutur Ketua Serikat Tani Merdeka Cilacap, Petrus Sugeng, Jumat (12/3).

Ia menyatakan, hampir semua jalan di barat berlubang dan sempit. Ini berbeda dengan jalan di bagian timur.

Sugeng yang juga warga Cipari, Cilacap Barat, menuturkan, perbaikan jalan di daerah barat tidak pernah dilakukan secara tuntas. Upaya maksimal yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah hanya menambal. Setiap kali musim hujan tiba jalan selalu rusak.

Dia mencontohkan, kerusakan jalan Karangpucung-Gandrungmangu-Sidareja yang sangat parah dan dari tahun ke tahun.

Di sektor pertanian pun tak jauh berbeda. Hampir semua saluran irigasi pertanian di Cilacap Barat rusak. Meski sama-sama memiliki saluran irigasi teknis, petani di Cilacap Barat hanya dapat maksimal dua kali panen setahun. Sementara petani di Cilacap Timur dapat panen tiga kali setahun.

Dengan kondisi alam yang berbukit, lembah, dan rawa, berbagai bencana seperti banjir dan longsor, sering melanda wilayah barat.

Ketersediaan pupuk juga menjadi masalah. Dengan wilayah yang luas dan transportasi sulit, harga pupuk di Cilacap bagian barat lebih mahal.

Demikian juga ketersediaan sarana transportasi yang minim juga menjadi keluhan klasik warga di barat. Bagi warga di Dayeuh Luhur, misalnya, tiap kali bepergian ke Cilacap harus menghabiskan uang Rp 200.000-Rp 250.000.

Sunarna (41), warga Kota Agung, Dayeuh Luhur, menuturkan, bila mengurus administrasi ke kota Cilacap, dia harus naik ojek Rp 50.000 dulu ke kota Dayeuh Luhur, dan menunggu angkutan ke Sidareja-sebab tak ada angkutan langsung ke Cilacap. Dari Sidareja ke Cilacap naik minibus. Itu pun hanya sampai pukul 17.00.

Biaya tinggi

Gubernur Jateng Bibit Waluyo tetap tidak menyetujui rencana pemekaran Cilacap Barat. Pemekaran wilayah membutuhkan persiapan matang dan biaya tinggi. Jika dilakukan, warga Cilacap Barat justru semakin tidak sejahtera.

Selain biaya cukup tinggi, jika dibentuk pemerintahan baru perlu membangun infrastruktur baru dan menggaji pejabat daerah. "Akibatnya, keuangan daerah habis untuk itu semua. Rakyat tidak kebagian," kata Bibit.

Cilacap Barat juga dinilai Gubernur tidak memiliki potensi daerah unggulan, yang bisa menopang kemandirian wilayah tersebut pascapemekaran. Pemerintah Daerah Cilacap diminta lebih memprioritaskan pembangunan melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan membuka balai latihan kerja.

Ketua Paguyuban Warga Cilacap Barat Muhtar Zain, mengaku sedih mendengar pernyataan Gubernur.

"Kami sudah mengusahakan pemekaran ini sejak lama, tetapi tak ada dukungan dari pemerintah provinsi," ujarnya. (han/den)

Sajarah Malangbong

Sajarah Malangbong
Sajarah Kacamatan Malangbong – Garut.

Ku : Didin Jaenudin, SH (Ketua Yayasan Surayudha)

Rd. Surayudha lahir taun 1787 di Limbangan Garut. Anjeuna putra ti Rd. Wira Redja, Bupati Pamanukan Subang turunan keneh Bupat Limbangan. Malangbong dibuka jeung diadegkeun ku Rd. Surayudha taun 1807 dina umur 20 taun. Anjeuna diisitrenkeun janten Wadana (Cutak Malangbong) dina taun 1814 dina umur 27 taun. Rd. Surayudha mere ngaran Malangbong tina kecap Pasir Malang katembong.

Rd. Surayudha bajoang jeung Pangeran Diponegoro ngalawan Walanda nepi ka taun 1830. Sanggeus beres perang Diponegoro dina umur 43 taun, Rd. Surayudha ngadahup ka Putri Sultan Mataram nu boga ngaran Rd. Siti Bunga Resmi (pamajikan ka hiji), dina umur 45 taun anjeuna nikah kaduakalina ka Rd. Siti Komala, Putri Rd. Sutamanggala (Lebe Malangbong nu sok disebut Uyut Jangkung).

Ti Rd. Siti Bunga Resmi boga budak 12, nyaeta :

1. Rd. Wira Bangsa (Camat Malangbong)
2. Rd. Bangsa Yudha
3. Rd. Sura Pradja
4. Rd. Wira Pradja
5. Rd. Wira Djibdja
6. Rd. Siti Kliwon
7. Rd. Siti Aminah
8. Rd. Siti Adjibah
9. Rd. Siti Djanah
10. Rd. Siti Maryam (Cigawir/Cikelepuh Limbangan)
11. Rd. Siti Aisyah
12. Rd. Sura Dimadja (H. Muhamad Ilyas) – Bojong


Ti Rd. Siti Komala boga budak 2 nyaeta :

1. Rd. Wira Yudha
2. Rd. Siti Nata Karaton


Rd. Surayudha ngantunkeun taun 1886 dina yuswa 99 taun.

Rd. Wira Bangsa putra kahiji Rd. Sura Yudha, dibabarkeun taun 1832. Dina yuswa 40 taun (taun 1872), Rd. Wira Bangsa diisitrenkeun jadi Camat munggaran di Malangbong ku Pamarentah Kolonial Walanda.


Basa Rd. Wira Bangsa diisitrenkeun jadi Camat munggaran di Malangbong. Pamarentah kolonial Walanda menta rojongan pamarentah nyaeta ngayakeun pangabutuh masarakat kayaning pasar, kantor pamarentahan, alun-alun jeung tempat ibadah.


Kusabab tanah boga Wira Bangsa teu mahi keur pangabutuh ngayakeunnana, Rd. Wira Bangsa menta rojongan ti adi-adina Rd. Wira Djibdja, Rd. Siti Aminah, jeung Rd. H. M. Ilyas (R. Suradimaja). Aranjeuna raridoeun tanahna dipake keur ngayakaeun pangabutuh masarakat (Hak Guna Pakai), kajaba tanah keur kaperluan tempat ibadah (Kaum/Masjid Agung), diwakafkeun ku H. Muhamd Ilyas (Rd. Suradimaja) dina taun 1930.

Taken from http://rosmailyas.multiply.com
Diposkan oleh Administrator di 08:56