Nu Tos Ningal Ieu Blog

Selasa, 21 Desember 2010

Lanud Cibeureun Tasik Cikal Bakal Penerbangan AURI


Pembentukan Lanud Wiriadinata

Pada awalnya Lanud Wiriadinata ini adalah Lanud Cibeureum Tasikmalaya yg terletak di Kelurahan Setiajaya, Setianegara, dan Setiaratu di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya dan merupakan peninggalan penjajahan Belanda yang dipergunakan sebagai tempat landing serta take off pesawat-pesawat militer Belanda, begitu juga pada masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang rnenyerah pada sekutu dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia menghimpun kekuatan untuk merebut kekuasaan dan Jepang, diantaranya Lapangan Udara.

Pada bulan September 1945 anggota-anggota teknik pesawat di Pangkalan Udara Andir Bandung mendapat berita, bahwa Lanud Cibeureum Tasikmalaya telah berhasil dikuasai oleh para pemuda dan rakyat Tasikmalaya. Ini menjadi suatu kegembiraan dan kebanggan tersendiri bagi para insan dirgantara serta menimbulkan motivasi untuk segera memanfaatkan fasilitas yang ada.

Berbekal kecintaan terhadap bendera negara yaitu merah-putih, tanggal 27 Oktober 1945 Basir Surya dan Tjarmadi, dengan peralatan seadanya memperbaiki pesawat Curen peninggalan Jepang dan diberi identitas dengan tanda Merah Putih dengan memberi warna putih pada bulatan merah bendera Jepang dan berhasil diterbangkan oleh Adisutjipto mengelilingi lapangan terbang Maguwo Yogyakarta. Kemudian, dengan dibantu delapan orang teknisi dan Pangkalan Udara Andir kembali memperbaiki pesawat Nishikoren dengan tanda segi empat merah putih dan diterbangkan oleh Adisutjipto tanggal 7 Nopember 1945 dengan mengelilingi Tasikmalaya selama 30 menit.

Pembukaan Pangkalan Udara Cibeureum Tasikmalaya dilaksanakan pada tanggal 13 April 1946 dengan diadakan pameran dan pekan penerbangan untuk memasyarakatkan minat dirgantara serta penerbangan formasi dengan route Yogyakarta-Tasikmalaya-Wirasaba-Sala-Madiun-Malang pada tanggal 15 April 1946, dengan penerbangnya ; Husein Sastranegara, Tugiyo, Santoso dan Wim Prajitno. Penerbangan formasi selanjutnya tanggal 10 Juni 1946 dengan 5 pesawat Cureng dan Pangkalan Udara Maguwo menuju Pangkalan Udara Cibeureum, dengan penerbangnya:

1. Komodor Muda Udara A. Adisoetjipto dan Opsir Udara II Husein Sastranegara
2. Komodor Muda Udara Prof. Dr Abdurahman Saleh dan OMU III Toeloes Martoatmodjo
3. Opsir Udara II H. Sujono dan OMU III Kaswan
4. Opsir Udara II Iman Suwongso Wirjosaputro dan Opsir Udara III Sunarjo
5. Opsir Udara II Iswahjudi dan Opsir Udara III Makmur Suhodo.

Opsir Muda Udara (OMU) I Basir Surya diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Cibeureum yang pertama dengan Surat Keputusan No. 33/Peng tanggal 30 Nopember 1946 yang merangkap sebagai Kepala Tekhnik Udara. Sedangkan serah terima lapangan udara Cibeureum dilaksanakan setelah diadakan perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda KNIL pada tahun 1950.

Pada tahun 1970-an Lanud Cibeureum Tasikmalaya ini, pernah digunakan untuk penerbangan sipil oleh maskapai penerbangan Bouraq dengan rute Bandung-Tasikmalaya-Cilacap. Namun, usaha itu berhenti karena tingkat okupansi pesawat yang tidak memadai. Saat ini Landasan Udara Wiriadinata berfungsi sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Udara.

Pada hari Kamis tanggal 12 September 2001, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Hanafie Asnan meresmikan penggantian nama Lanud Cibeureum Tasikmalaya menjadi Lanud Wiriadinata dengan Surat Keputusan Nomor Skep/100/IX/2001 tanggal 12 September 2001 tentang Penggantian nama Lanud Tasikmalaya menjadi Wiriadinata. Penggantian nama tersebut berasal dari usulan Paguyuban Masyarakat Pasundan mengingat besarnya jasa Wiriadinata selama masa revolusi pembangunan TNI AU sejak 1946.

Siapakah Wiriadinta itu? Marsda (Pur) RHA Wiriadinata kelahiran 15 Agustus 1920 di Situraja, Sumedang itu pernah menjadi Panglima Komando Pasukan Gerak Cepat (PGT) dan Panglima Komando Gabungan Pendidikan Paratrop. Selain itu juga pernah menjadi Wakil Gubernur DKI, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Inilah sejarah singkat Tentang Lanud Wiriadinata, semoga info ini bisa bermanfaat & kita bisa jadi lebih mengetahuinya. 
By : Asepta El Virgoth

 
Referensi :

- http://www.angkasa-online.com/12/01/cakra/cakra1.htm
- http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/23/Jabar/1767450.htm

Doel Sumbang VS Iwan Fals

Doel Sumbang, seniman mumpuni dalam ranah musik tanah air dan tanah Pasundan. Seniman musik ini terkenal dengan lagu-lagunya, baik yang berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Sunda. Pemilik nama asli Wahyu Affandi ini muncul dalam kancah musik Indonesia sekitar tahun 1980-an. Karakter lagunya dengan pengucapan lagu tak lazim serta kritik sosial atau penggambaran sosial yang lebih "membumi". Tidak heran jika lagu-lagunya tetap dikenal hingga kini.

Doel Sumbang lahir dan dibesarkan dalam keluarga santri. Ayahnya adalah mubalig di Kota Bandung yang dikenal dengan "Abah Kabayan". Sejak SMP ia telah belajar musik dan teater dari Remy Sylado. Lagu-lagunya sarat dengan kritik sosial. Hal ini menarik seorang produser, Handoko Kusumo, hingga bersedia merekam karya-karya Kang Doel. Ia pun yang memberi nama "Soembang" hingga sekarang dikenal dengan nama Doel Sumbang. "Sumbang" di sini bisa dimaknai sebagai suara kritik, terhadap sistem maupun budaya yak-lirik jenaka namun mengandung kritikan yang cerdas, seperti dalam lagu-lagunya: Aku si raja goda, Suparti, Martini, Sakit Jiwa, dsb. Misalnya, dalam lagu Aku, Tikus, dan Kucing berikut ini; bagaimana Kang Doel menyentil sosok gadis zaman sekarang hingga kondisi Kota Bandung, tempat ia lahir dan dibesarkan.



Tapi, lagu-lagu Doel Sumbang pun tidak hanya berkutat dalam ranah kritik/kondisi sosial. Ia pun bisa menyajikan lirik cinta yang berkelindan manis dengan makna kehidupan manusia, seperti dalam lagu Arti Kehidupan. Tidak hanya di tingkat Nasional, lagu-lagu Kang Doel dikenal dalam lagu-lagu berbahasa Sunda. Baraya penikmat lagu Sunda pasti sudah tidak asing lagi dengan lagu: Pangandaran, Bulan Batu Hiu, Ah Hoream, Ai, Awewe Sapi Daging, Beurit, Ceu Romlah, Sumedang, Jol, dll.

Begitulah sosok Doel Sumbang, ia seakan tidak habis kreativitas dalam bermusik. Lagu-lagu dalam bahasa Sunda yang diciptakannya tetap banyak yang berciri kritikan sosial, seperti Polisi Noban, Ema, Lalaki, Mang Darman, Berenyit, dll. Lagu-lagu dalam basa Sunda hasil karya pria kelahiran 16 Mei 1963 ini bahkan booming saat euforia Reformasi 1998. Selain itu, karya-karya lagunya pun kerap dinyanyikan oleh penyanyi Sunda lain, seperti Darso dan Nining Meida. Doel ada sosok fenomenal dari Tanah Pasundan yang terus berkarya dalam segala kondisi zaman.



Iwan Fals yang memiliki nama lengkap Virgiawan Listianto adalah penyanyi balada yang telah menjadi legenda di Indonesia. Lagu-lagunya konsisten mengangkat persoalan sosial dan meneropong kaum pingiran yang dekat dengannya. Sehingga lagu-lagunya ini banyak bermakna kritik yang berdampak ‘cekal’ baginya di masa Orde Baru.
Iwan fals lahir di Jakarta, 3 September 1961 yang pernah menjadi kolumnis beberapa tabloid olah raga ini, menjadi icon jalanan, yang lagu-lagunya kerap dibawakan para pengamen.
Hingga kini Iwan fals tetap produktif berkarya dan album terakhirnya, Manusia Setengah Dewa dirilis 2005 lalu.
Sementara iru, perkawinanya dengan Rosanna (Mbak Yos) yang sekaligus menjadi manajernya ini, dikaruniai tiga anak, Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Kita bedah kedua maestro musik ini :
1. Doel dan Iwan sama-sama penyanyi dengan vokal yang bagus
2. Doel dan Iwan sama-sama pencipta lagu
3. Doel dan Iwan sama-sama pencipta lagu balada (kritik sosial)
4. Doel pencipta lagu daerah (Sunda)
5. Doel pencipta lagu realigi (contoh : Duriat Madinah)

Jadi, pemenangnya adalah Doel Sumbang dengan skor 5-3

yang terdalam by Peter Pan



ASK-PASUNDAN JAYA

Suasana Kota Tasikmalaya Pagi Hari

Sebagai seorang yang pernah menetap di kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Saya akan mencoba menggambarjkan suasana kota Tasikmalaya. Untuk kali ini saya akan membahas suasana kota Tasikmalaya di pagi hari. Kita mulai dengan aktivitas yang pertama dimulai warga Tasik yaitu pada jam 03.30 WIB karena pada waktu itu seorang marbot (ahli masjid) telah mengumndangkan adzan Subuh awal. Banyak sekali mesjid yamh mengumandangkan adzan Subuh ini, secara Tasik kota santri gitu lho,..Kemudian sekitar jam 04.15 WIB saatnya kumandang adzan Subuh. Dan kebanyakan warga telah bangun. Karena di kota Tasik pada jam segini, suasana  di luar sangat ramai sekali selain dari kumandang adzan, para warga juga ada yang berolahraga, ada yang mempersiapkan dagangan mereka, ada yang sudah menarik becaknya. Kalau saya sih biasanya jam segini sudah lari pagi setelah solat subuh di masjid, mengelelingi komplek PJKA. Setelah lari pagi, sekitar jam 05.30 saya membeli bubur ayam Tasik yang terkenal itu, selain TO (tutug oncom dan sorabi). Bubur dengan bandrol sekitar Rp 3000 cukup untuk mengganjal perut yang telah kosong dari semalaman. Makan bubur dengan pemandangan Stasiun Kereta Api Kota Tasikmalaya sungguh enak sekali. Sekitar jam  06.30, saya jalan-jalan ke simpang lima sambil lari pagi dan cari koran. Tentu saja saya cari koran lokal seperti Harian umum "Priangan" dan Koran Radar Tasikmalaya yang mengupas berita wilayah di Priangan Timur. Saat itu adalah hari Senin dimana penulis sedang meliburkan diri ke kota Tasik, hehe,...
Terlihat banyak sekali anak-anak sekolah yang telah menunggu angkot untuk menuju sekolahnya. Ada juga para bapak-bapak  dan ibu-ibu PNS yang datang dari arah Ciamis dan Bandung yang turun dari Elf atau bus 3/4. Tak ketinggalan loper koran berkeliaran serta becak yang keur mamayu narik penumpang dan gerobak bubur ayam mulai menggelinding "kukurilingan" mencari mangsa. Rame lah pokona mah !!!
Lihat tugu simpang lima Tasik seperti melihat tugu kujang Bogor karena sangat mirip,...
Yah begitulah,...suasana pagi di kota Tasikmalaya tercinta,...
mohon maaf kalau tidak terlalu lengkap dan detail untuk menggambarkan suasana pagi di kota Tasikmalaya.

Nasi Goreng INKOPOL Bekasi



ASK-PASUNDAN JAYA

Bagja Ku Cukup

Hirup bagja teu perlu di kota.
Di lembur oge pasti bisa.
Cukup boga imah, aya panto aya jandela.
Buruan rada lega.
Boga pepelakan rada loba.
Boga sawah najan sakotak.
Boga kebon najan 10 bata.
Aya Jati jeung Mahoni.
Boga balong nu teu gede.
Aya lele jeung gurame.
Di tengahna aya saung.
Bari ngadenge si Domba Garut jeung hayam pelung.
Teu poho ngukut tikukur matak hirup jadi alakur.
Hayang dahar tinggal ngala.
Beas euweuh aya sampeu.
dibaturan ku hui.
dahar nikmat make peuteuy & jengkol.
Pasti bagja kacida