Nu Tos Ningal Ieu Blog

Kamis, 04 Desember 2008

SEJARAH TASIKMALAYA

Sejarah Tasikmalaya

Masa sebelum Islam

Dimulai pada abad ke VII sampai abad ke XII di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Tasikmalaya, diketahui adanya suatu bentuk Pemerintahan Kebataraan dengan pusat pemerintahannya di sekitar Galunggung, dengan kekuasaan mengabisheka raja-raja (dari Kerajaan Galuh) atau dengan kata lain raja baru dianggap syah bila mendapat persetujuan Batara yang bertahta di Galunggung. Batara atau sesepuh yang memerintah pada masa abad tersebut adalah sang Batara Semplakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang yang pada masa pemerintahannya mengalami perubahan bentuk dari kebataraan menjadi kerajaan.

Kerajaan ini bernama Kerajaan Galunggung yang berdiri pada tanggal 13 Bhadrapada 1033 Saka atau 21 Agustus 1111 dengan penguasa pertamanya yaitu Batari Hyang, berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di bukit Geger Hanjuang, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Tasikmalaya. Dari Sang Batari inilah mengemuka ajarannya yang dikenal sebagai Sang Hyang Siksakanda ng Karesian. Ajarannya ini masih dijadikan ajaran resmi pada jaman Prabu Siliwangi (1482-1521 M) yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Kerajaan Galunggung ini bertahan sampai 6 raja berikutnya yang masih keturunan Batari Hyang.

Periode selanjutnya adalah periode pemerintahan di Sukakerta dengan ibukota di Dayeuh Tengah (sekarang termasuk dalam Kecamatan Salopa, Tasikmalaya), yang merupakan salah satu daerah bawahan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa pertama adalah Sri Gading Anteg yang masa hidupnya sejaman dengan Prabu Siliwangi. Dalem Sukakerta sebagai penerus tahta diperkirakan sejaman dengan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) Raja Pajajaran yang menggantikan Prabu Siliwangi.

Masa kedatangan Islam

Pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa kedudukan Pajajaran sudah mulai terdesak oleh gerakan kerajaan Islam yang dipelopori oleh Cirebon dan Demak. Sunan Gunung Jati sejak tahun 1528 berkeliling ke seluruh wilayah tanah Sunda untuk mengajarkan Agama Islam. Ketika Pajajaran mulai lemah, daerah-daerah kekuasaannya terutama yang terletak di bagian timur berusaha melepaskan diri. Mungkin sekali Dalem Sukakerta atau Dalem Sentawoan sudah menjadi penguasa Sukakerta yang merdeka, lepas dari Pajajaran. Tidak mustahil pula kedua penguasa itu sudah masuk Islam.

Rakeyan Mundinglaya

SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir

Rakeyan Mundingwangi

SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?

Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati

SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Masa kedatangan Belanda

Periode selanjutnya adalah pemerintahan di Sukapura yang didahului oleh masa pergolakan di wilayah Priangan yang berlangsung lebih kurang 10 tahun. Munculnya pergolakan ini sebagai akibat persaingan tiga kekuatan besar di Pulau Jawa pada awal abad XVII Masehi: Mataram, Banten, dan VOC yang berkedudukan di Batavia. Wirawangsa sebagai penguasa Sukakerta kemudian diangkat menjadi Bupati daerah Sukapura, dengan gelar Wiradadaha I, sebagai hadiah dari Sultan Agung Mataram atas jasa-jasanya membasmi pemberontakan Dipati Ukur. Ibukota negeri yang awalnya di Dayeuh Tengah, kemudian dipindah ke Leuwiloa Sukaraja dan “negara” disebut “Sukapura”.

Pada masa pemerintahan R.T. Surialaga (1813-1814) ibukota Kabupaten Sukapura dipindahkan ke Tasikmalaya. Kemudian pada masa pemerintahan Wiradadaha VIII ibukota dipindahkan ke Manonjaya (1832). Perpindahan ibukota ini dengan alasan untuk memperkuat benteng-benteng pertahanan Belanda dalam menghadapi Diponegoro. Pada tanggal 1 Oktober 1901 ibukota Sukapura dipindahkan kembali ke Tasikmalaya. Latar belakang pemindahan ini cenderung berrdasarkan alasan ekonomis bagi kepentingan Belanda. Pada waktu itu daerah Galunggung yang subur menjadi penghasil kopi dan nila. Sebelum diekspor melalui Batavia terlebih dahulu dikumpulkan di suatu tempat, biasanya di ibukota daerah. Letak Manonjaya kurang memenuhi untuk dijadikan tempat pengumpulan hasil-hasil perkebunan yang ada di Galunggung.

Nama Kabupaten Sukapura pada tahun 1913 diganti namanya menjadi Kabupaten Tasikmalaya dengan R.A.A Wiratanuningrat (1908-1937) sebagai Bupatinya.

Tanggal 21 Agustus 1111 Masehi dijadikan Hari Jadi Tasikmalaya berdasarkan Prasasti Geger Hanjuang yang dibuat sebagai tanda upacara pentasbihan atau penobatan Batari Hyang sebagai Penguasa di Galunggung. Rakeyan Mundinglaya

SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir


Rakeyan Mundingwangi

SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?

Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati

SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Peristiwa Penting

Dalam perjalanannya Tasikmalaya mencatat beberapa peristiwa penting bersejarah antara lain :

Selain itu ada beberapa peristiwa penting yang patut diketahui antara lain :

  • Peristiwa meledaknya pabrik mesiu DAHANA tanggal 5 Maret 1976.
  • Meletusnya Gunung Galunggung tanggal 5 April 1982.
  • Penganugerahan PARASAMYA PURNA KARYA NUGRAHA pada akhir Pelita IV tahun 1989.
  • Sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pertanian, koperasi dan Keluarga Berencana (PERTASI KENCANA) Tingkat Nasional tahun 1994.
  • Terjadinya kerusuhan 26 Desember 1996 yang dikenal dengan peristiwa Desember kelabu.
  • Sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pertemuan petani se Indonesia dan Asia Tenggara (PENAS) Tingkat Nasional tahun 2002.

Prestasi

Prestasi baik di tingkat Nasional maupun internasional, antara lain Solihin, Susi Susanti, Lidya Jaelawijaya, Lamting di bidang olah raga, Abdul Rodjak dan Mak Eroh sebagai perintis lingkungan hidup yang telah mendapatkan penghargaan Kalpataru, dan sejumlah 8 orang pengrajin yang berhasil memperoleh penghargaan Upakarti, prestasi dibidang MTQ, serta prestasi lainnya.

Di bidang kesenian, Tasikmalaya telah pula melahirkan seniman-seniman tingkat nasional, seperti Budayawan Wahyu Wibisana, dan artis-artis nasional.

PERSIB

ask-persib
gartaz mania

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).

Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.

Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.

Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.

Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.

Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.

Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.

Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.

Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib.


PRABU SILIWANGI


PRABU SILIWANGI

Dengan gelar Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.
Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima Tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran


Prabu Siliwangi
Di Jawa Barat Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).
Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:
"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".
Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.
Biografi
Masa muda
Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai kesatria pemberani dan tangkas bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sejamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.
Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):
"Di medan perang Bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemashurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Jawa Barat. Oleh karena itu nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".
Perang Bubat
Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan kenyataan sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).
Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).
Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Kebijakan Sri Baduga dan Kehidupan Sosial
Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.
Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".
Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.
Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".
Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.
"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.
Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).
Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah jaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.
Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.
Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.
Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.
Gelar "Sripaduka" ( Sri Baduga ) pada zaman Pajajaran Nagara disandang oleh 3 tokoh : 1. Wastukancana / Rd. Pitara Wangisuta / SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATA PURANA RATU HAJI DI PAKUAN PAJAJARAN SANG RATU KARANTEN ( KARA ANTEN ) RAKEYAN LAYARAN WANGI /SUNAN RUMENGGONG (RAMA HYANG AGUNG ) adik dari Dyah Pitaloka Citraresmi anak dari Rd. Kalagemet /Jayanagara II / Raja Sundayana di Galuh /Ratu Galuh di Panjalu / Maharaja Prabu Wangi dan merangkap Wali Nagari Hujung Galuh ( Majapahit-Pajajaran Wetan / Jawa Pawatan / Galuh - menjadi wali sang kakak Linggabuana/Jayanagara I/Maharaja Prabu Diwastu ayah dari Hayam Wuruk /Hyang Warok /Rd. Inu Kertapati /Susuk Tunggal /Prabumulih /Prabu Seda Keling /Sang Haliwungan /Pangeran Boros Ngora/Ra- Hyang Kancana )gugur pada "PERANG BUBAT" dalam pertempuran yang tidak "FAIR" atas "REKAYASA" Gajah Mada / Guan Eng Cu dan Nangganan /Ki Ageng Muntalarasa /Syekh BEN TONG!!!!,dengan cara dibokong dan di keroyok !!!
2. Mundinglayadikusumah / Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah/SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU GANTANGAN SANG SRI JAYA DEWATA /KEBO KENONGO /ARYA KUMETIR /RD.KUMETIR /KI AGENG PAMANAH RASA / SUNAN PAGULINGAN anak dari LINGGA HYANG / LINGGA WESI / HYANG BUNI SWARA /SRI SANGGRAMAWIJAYA TUGGAWARMAN /MAHAPATI ANAPAKEN ( MENAK PAKUAN )/ RD. H. PURWA ANDAYANINGRAT / SUNAN GIRI /HYANG TWAH / BATARA GURU NISKALAWASTU DI JAMPANG
3. MUNDINGWANGI/ SRI PADUKA MAHARAJA PRABU GURU DEWATAPRANA SANG PRABU GURU RATU DEWATA anak dari Wastukancana.

Rakeyan Mundinglaya
SILIWANGI I Rd. Samadullah Surawisesa Mundinglayadikusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Gantangan Sang Sri Jaya Dewata / Ki Ageng Pamanah Rasa / Sunan Pagulingan / Kebo Kenongo / Rd. Kumetir / Layang Kumetir

Rakeyan Mundingwangi
SILIWANGI II Rd.Salalangu Layakusumah Sri Paduka Maharaja Prabu Guru Dewata Prana Sang Prabu Guru Ratu Dewata / Kebo Anabrang ?
Rakeyan Mundingsari /Mundingkawati
SILIWANGI III Tumenggung Cakrabuana Wangsa Gopa Prana Sang Prabu Walangsungsang Dalem Martasinga Syekh Rachmat Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati I Ki Ageng Pamanahan / Kebo Mundaran ?

Peristiwa-peristiwa di masa pemerintahannya
Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:

Carita Parahiyangan
Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.
RAKEYAN MUNDINGSARI/MUNDINGKAWATI/TUMENGGUNG CAKRABUWANA WANGSA GOPA PRANA SANG PRABU WALANGSUNGSANG/DALEM MARTASINGA /SYEKH RACHMAT SYARIF HIDAYATULLAH SUNAN GUNUNG JATI I /KEBO ANABRANG ? SILIWANGI III /SUNAN RACHMAT adalah anak dari Hyang Warok / Susuk Tunggal /Sang Haliwungan

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.
Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka di Pajajaran di Bumi Sunda (Jawa Barat)]
Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjada kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.
Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menghamba dan masuk Islam.
Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebonadalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).
Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran].
Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun PAGELARAN (formasi tempur). [Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.
Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].
Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :
Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.
Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d'Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.
Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -- Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara -- diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).
Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai jaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).
Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.
Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran.
Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi yang dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhuna di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

ask-persib gartaz mania


ask-persib
gartaz mania

ask-persib
gartaz mania

ssssssttttttttttttttttttttttttt boz lagi tidur



Kamis, 27 November 2008

Perang Bubat
Editor @sk

Adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.
Rencana pernikahan
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit; yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.[rujukan?]
Namun catatan sejarah Pajajaran yang ditulis Saleh Danasasmita dan Naskah Perang Bubat yang ditulis Yoseph Iskandar menyebutkan bahwa niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Raden Wijaya yang menjadi pendiri kerajaan Majapahit, dianggap keturunan Sunda dari Dyah Lembu Tal dan suaminya yaitu Rakeyan Jayadarma, raja kerajaan Sunda. Hal ini juga tercatat dalam Pustaka Rajyatajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3. Dalam Babad Tanah Jawi, Raden Wijaya disebut pula dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran. Meskipun demikian, catatan sejarah Pajajaran tersebut dianggap lemah kebenarannya, terutama karena nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki.
Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.
Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.
Kesalahpahaman
Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Gugurnya rombongan Sunda
Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.
Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.
Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).
Video Favorit Pemirsa yang Terekam Dalam Video ini
video

Album Foto

This is my album photos :


i and friend go to LAPAN-Bandung,awal 2008.Duduk di belakang bis apalagi tempat barang suguh enak.Teu percaya?Sok cobaan geura!!!!!!!!!!!
Don't smoking ! But,in that place is smoking area.No Problem.OK


Foto bareng UIA student and karyawan LAPAN,make lagu Sunda asa di hajat kawinan


This my.......CAR.Believe it.
Amien Ya Robbal Alamin



Hanya pose sebentar !!!!!!!!!!!!!




Betawi Hanya Komunitas

Ada anggapan orang awam bahwa betawi adalah sebuah suku bangsa.Tapi kenyataannya adalah betawi bukan sebuah suku bangsa melainkan sebuah komunitas.Mengapa disebut suatu komunitas,karena betawi terbentuk dari percampuran berbagai suku bangsa di nusantara yang terdapat di wilayah Sunda Kalapa (Jakarta).

Kita lihat sejarah perkembangan Sunda Kalapa.Betawi tidak bisa dilepaskan dari nama Sunda Kalapa karena Sunda Kalapa adalah habitat warga Betawi. Sebagai pusat perdagangan Kerajaan Sunda sejak abad 8 M,maka Sunda Kalapa dikunjungi oleh semua pedagang dari nusantara maupun negeri seberang.Seperti biasa,di pusat perdagangan dipastikan ada perkampungan pedagang dan nelayan untuk beristirahat ataupun menetap untuk berdagang.Yang menjadi saudagar pada saat itu selain bangsa Sunda sendiri,bangsa Arab,bangsa India serta bangsa China.Kemudian pedagang-pedagang dari Bugis,Banjarmasin,Melayu,Aceh.Lalu para budak belian dari Timor,Sasak,Bali,Jawa,Madura.Semua etnis semua berkumpul di Sunda Kalapa.Karena berbagai perbedaan itu.komunikasi yang dipakai adalah bahasa campur semua bangsa (yang sekarang dipakai komunitas Betawi).Jelas pada masa ini Sunda Kalapa adalah tatar Pasundan (tempat orang Sunda).Jadi tidak salah kalau penamaan suatu daerah geografis di Sunda Kalapa (Jakarta) sangat kental dengan penamaan suatu daerah di tatar pasundan yang lainnya.Seperti contoh penamaan tempat menggunakan awalan Ci…(yang berarti air).Mulai dari Cililitan,Cikini,Cipinang,Cilincing,dll.Danau yang dinamakan Setu (Situ).

Komunitas Betawi terbentuk selain karena persamaan geografis,yaitu bertempat tinggal di sekitar Sunda Kalapa,juga karena akulturasi budaya beragam suku bangsa yang berada di Sunda Kalapa.Jadi wajar kalau ada Betawi Arab,Betawi Cina,Betawi Kampung.Dari sini sudah jelas bahwa betawi berasal dari berbagai etnis.Namun yang paling kita kenal adalah betawi kampong alias Betawi keturunan bangsa Sunda,Jawa,Bali,Sasak,dll.Betawi adalah suatu himpunan atau lembaga yang menaungi warga yang tinggal di Sunda Kalapa tanpa mengikat anggota.Atau dengan kata lain betawi adalah sistem sosial terbuka semua orang bias menjadi betawi asalkan ia berada di lingkungan Sunda Kalapa,walaupun ia Batak,Bugis ataupun suku lainnyaMereka tetap Batak,Bugis atau suku yang lainnya hanya mereka berada dalam himpunan Betawi.Betawi adalah hanya sebuah nama,kita contohkan betawi adalah kelas.Dimana di dalam kelas itu ada berbagai macam suku bangsa.Ada seorang Batak yang masuk kelas Betawi.Ia tetap batak tapi tidak menutup kemungkinan ia berpindah kelas. Sedangkan suku bangsa bersifat sistem sosial tertutup,tidak dapat berubah.Sebagai contoh suku Batak tidak bisa menjadi suku Jawa (sudah mendarah daging).

Namun,komunitas betawi kampung mengaku sudah ada dari sononya.Ya,semua manusia berasal dari keturunan Adam.Namun tidak langsung dari Adam ke betawi.Bahkan betawi berasal dari suku bangsa di nusantara yang sudah exist duluan.(betawi-anak kemarin sore)

Persebaran betawi yang awalnya berada di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa menyebar ke seluruh wilayah Jakarta bahkan ada yang sampai ke Tambun-Bekasi.Sejarahnya adalah betawi kampung yang pada saat itu adalah pekerja rendahan (budak) dipekerjakan tuan tanah [mulai dari Juragan Sunda,bangsa Portugis,bangsa Belanda,bangsa Inggris,bangsa Jepang hingga Soekarno (yang berkuasa di Sunda Kalapa)] untuk menggarap tanah pertanian dan perkebunan di daerah pinggiran jakarta .Namun seiring dengan perkembangan zaman kepemilikan tanah berpindah ke betawi kampung yang notabene adalah penggarap tanah.Inilah awal dari kepemilikan wilayah komunitas betawi.Sehingga saat ini warga betawi menjadi tuan tanah dan menyandang gelar baru yaitu sebagai pribumi daerah Sunda Kalapa (Jakarta).Kemudian setelah beberapa tahun sesudah orde reformasi muncul ormas-ormas betawi.Namun sangat disayangkan ormas tersebut sangat arogan dan egois.Merasa di kandangnya,mereka berlaku sewenang-wenang terhadap setiap pendatang,apakah perseorangan atau perusahaan dan lembaga-lembaga khususnya dari suku-suku yang jumlahnya relative sedikit termasuk warga madura.Karena itulah,banyak suku yang ada di Jakarta merasa risih dan menaruh antipati terhadap warga betawi.Sebagai contoh adalah perselisihan warga betawi dengan suku madura.Saking,panasnya perseteruan antara kedua pihak.Komunitas betawi tidak memperbolehkan perkawinan dengan suku madura.Hal ini juga yang dialami oleh teman saya.Namun,warga betawi lupa bahwa sesungguhnya madura adalah salah satu nenek moyang mereka.Sungguh keterlaluan jika kejadian ini terus berulang dan meluas dengan suku-suku lainnya.Betawi kuat karena ada dukungan dari suku lainnya.Hal ini dapat dilakukan karena betawi berasal dari multi etnis khususnya etnis dari negeri jauh seperti arab dan cina..Jumlahnya yang tidak seberapa namun karena didukung oleh multi etnis maka menimbulkan kekuatan baru.

REVIEW

Mengapa Betawi hanya komunitas bukan Suku bangsa

  1. Suku bangsa memiliki wilayah sendiri sedangkan betawi adalah berasal dari berbagai daerah.Mereka pada mulanya hanya sebagai pendatang (nelayan dan pedagang).Kemudian mereka mendapat warisan dari tuan tanah (pribumi) berupa tanah yang mereka tinggali
  2. Suku bangsa memiliki bahasa sendiri sedangkan bahasa betawi merupakan gabungan dari beragam bahasa berbagai suku (70% basa Sunda).Dilihat secara geografis sangat tidak mungkin jika basa Sunda tidak mempengaruhi bahasa betawi.Banyak kata-kata dalam Basa Sunda yang diserap bahasa betawi.Sebagai contoh bahasa kasar Sunda hampir semua diserap menjadi bahasa betawi.Hal ini tentu juga mengindikasikan bahwa warga betawi (betawi kampong) dahulunya adalah pekerja rendahan.karena hanya orang yang memakai bahasa kasar dalam pergaulan adalah yang bekerja di level bawahan dan terbawa hingga saat ini.
  3. Suku bangsa memiliki kedaulatan (Kerajaan),sedangkan betawi adalah kumpulan pendatang dari berbagai daerah guna mencari penghidupan di Sunda Kelapa.Arti kerajaan sendiri adalah kumpulan warga yang sebangsa dengan memilki manjerial kepemimpinan.Mustahil jika betawi mempunyai kerajaan
  4. Suku bangsa memiliki kebudayaan tersendiri,sedangkan betawi mempunyai tari yapong yang jiplakan dari tarian Sunda,lenong merupakan kesenian kontemporer yang dikembangkan dari seni drama Sunda.Kesenian musik betawi berasal dari degung Sunda dan Cina (gambang kromong),Tanjidor (berasal dari Portugis),dll.
  5. Suku bangsa memiliki peninggalan kuno (prasasti) dengan menggunakan huruf dan bahasa tersendiri.Di Jakarta ditemukan sebuah prasasti namun prasasti tersebut peninngala kerajaan Sunda yaitu kerajaan Tarumanagara (Prasasti Tugu)
  6. Suku bangsa memiliki adat istiadat yang khas,sedangkan betawi memilki adapt tersebut yang merupakan campuran dari berbagai adat etnis lain.Seperti contoh adapt perkawinan yang merupakan adaptasi dari perkawinan adat Tionghoa.

Satu yang plus dari betawi adalah identik dengan islam.Disaat suku bangsa lain sulit menjaga hal tersebut.Maka pertahankan dan kembangkan pretise tersebut.Jangan jadikan rasa “sok” mencemarkan betawi itu sendiri dan umumnya islam itu sendiri.

Saya sebagai saudara muslim dan saudara tua dari warga betawi memberitahukan bahwa selama ini betawi sudah terpojokkan jangan sampai terjadi kasus Sampit terjadi.Naudzubillah.

Betawi ada bukan karena sendirinya tetapi ada saudara-saudara tua sekaligus nenek moyang betawi (suku-suku lain).Cobalah untuk bersikap solider dan tidak lupa daratan.Apalagi jangan sampai betawi dikatakan kacang lupa akan kulitnya.Betawi harus hormat kepada saudara-saudara tua (suku-suku lain) apalagi kepada bangsa Sunda yang nota bene sangat berpengaruh sekali terhadap keberlangsungan betawi.

Wallohu Alam bis Shawab.

Panduan Belanja Minggu Ini

Bagi anda yang akhir minggu ini mau berbelanja berikut perbandingan harga berbagai macam barang di beberapa hypermarket di Jakarta.

Hypermart memberikan discount 15%-31% untuk semua produk LG, dan juga discount 30% + 10% MCC untuk produk POUND’S flawless white All Variants dan POUND’S age miracle All Variants.

Carrefour menawarkan discount 20%, 40%, 60%, s/d 80% untuk produk tekstil, elektronik, dan perlengkapan rumah tangga dari tanggal 19-25 November 2008. Ada juga Gebyar produk Carrefour yaitu setiap pembelian 1 produk private label Carrefour anda langsung mendapatkan 1 kupon undian (untuk produk segar private label Carrefour dihitung per-pack/per-kantong).

Akhir minggu ini Carrefour menurunkan 36% jeruk Shantang dari harga Rp. 1.990/100g menjadi Rp. 1.275/100g.

Bagi anda penggemar alpukat dan anggur, hypermart memberikan penawaran special untuk Grape King kini bisa didapat dengan harga Rp. 3.777/100g dan alpukat mentega Probolinggo harganya Rp. 975/100g.Giant menurunkan wortel import dari harga Rp. 799/100g menjadi Rp. 489/100g.

Untuk ayam broiler Giant menawarkan dengan harga Rp. 17.990/ekor, Carrefour menurunkan 25% dada ayam dari harga Rp. 3.590/100g menjadi Rp. 2.690/100g, sedangkan dada ayam tanpa tulang bisa dibeli dengan harga Rp. 4.558/100g dan daging rawon Rp. 4.250/100g di Hypermart.

Minyak goreng Tropikal Refill 2L ditawarkan dengan harga Rp. 17.990, ini bisa didapat di Giant Hypermarket. Sementara Carrefour menawarkan PM minyak goreng refill 2L dengan harga Rp. 15.900 dan CF kecap manis refill 600ml harganya Rp. 7.900, tapi terdapat pembatasan pembelian.

Mamy Poko M44/L38/XL34/XXl28’s di Giant harganya hanya Rp. 59.990.Untuk susu bendera 123 madu 900g/box hanya Rp. 54.900 di Carrefour, dan setiap belanja kelipatan Rp. 50.000 bisa beli susu Pediasure Complete Vanilla Tin 900g/klg dengan harga Rp. 149.900.

Carrefour minggu ini memberikan penawaran special Coca Cola/Sprite/Fanta Strawberry pet 1.5L /btl dengan harga Rp. 7.900, sedangkan Hypermart menurunkan Coca Cola can 330ml MP4 harganya kini Rp. 13.990.

Kepada para pelanggan setelah melihat harga-harga diatas mungkin dapat membantu anda dalam persiapan untuk merinci barang belanja anda.Selamt berbelanja!!!

Oleh : ask

Berita,Artikel dan feature @sk

BERITA

Arisan FMIPA

Jatiwaringin (17/8),matekcheria05.blogspot.com

Awal mulanya terjadi Arisan MIPA yaitu berasal dari perbincangan mahasiswa semester 1 Fakultas MIPA di lantai 5 gedung Alawiyah Universitas Islam As-Syafiiyah.Arisan MIPA bertujuan untuk meramaikan suasana perkuliahan di fakultas MIPA,yang pada awal pendiriannya hanya sekedar untuk beli cemilan di kala senggang di sela-sela perkuliahan begitulah yang diungkapkan sang penggagas arisan Awan Nur Arif ketika diwawancarai matekcheria05.blogspot.com.

Arisan MIPA dimulai pada tanggal 25 Oktober 2008 dengan anggota 9 orang dari fakultas MIPA namun seiring dengan perkembangan selanjutnya kini telah beranggotakan 35 orang yang berasal dari mahasiswa FMIPA (Matematika,Biologi,PSIK),jurusan BK-FKIP,serta teman dan saudara dengan pengocokan seminggu sekali yang selalu diselenggarakan di secretariat BEM FMIPA dan iurannya sebesar Rp 12000.Sampai saat ini telah 4 kali dilaksanakan pengocokan arisan..

Diharapkan dari arisan MIPA ini dapat mempererat hubungan antar mahasiswa MIPA serta bisa menjdi tempat curhat mahasiswa dalam hal apapun.Tentu saj hal ini sangat didukung oleh mahasiswa tingkat atas yang sebentar lagi meninggalkan kampus.Dengan adanya arisan ,kehidupan BEM akan selalu terjaga.

Demikianlah laporan yang dapat disampaikan oleh Agung SK (@sk) untuk matekcheria05.blogspot.com

ARTIKEL

PERSEPAKBOLAAN NASIONAL

By : Agung SK

FS : ask_bobotohgartaz@yahoo.com

Kata Sepakbola terlintas dalam benak kita adalah suatu olahraga dengan pamor yang gegap gempita.Seluruh masyarakat tumpah ruah menyaksikan pertandingan sepakbola.Apalagi pada saat pergelaran Piala Dunia ibarat peribahasa sepakbola adalah gula yang mengundang kerumunan semut.Tak terkecuali dengan persepakbolaan nasional yang menggelora.Walaupun ada tanggapan sinis dari segelintir orang tentang persepakbolaan nasional yang masih disebut dengan sepakbola kampung.Hal ini dikarenakan citra persepakbolaan nasional tercoreng dengan kerusuhan dalam sepakbola ,baik itu kerusuhan antarsuporter maupun perkelahian antar pemain serta pengeroyokan wasit yang dianggap berat sebelah.Namun kalau kita lebih jeli dan cermat menganalisis permasalahan sepakbola nasional khususnya kompetisi sepakbola Indonesia Super League (ISL) 2008 sebagai kompetisi level tertinggi sepakbola nasional.Hal tersebut merupakan suatu kemajuan karena format yang baru diselenggarakan petama kali pada tahun ini merupakan Liga Profesional Sepakbola Nasional yang pada musim-musim sebelumnya masih semi professional (Divisi Utama).Pada saat era Divisi Utama yang sekarang menjadi kompetisi level dua di kancah sepakbola nasional,pendanaan klub masih menggantungkan kepada APBD pemda setempat (tim-tim perserikatan),namun setelah keluar PP Mendagri tahun 2007 yang membatasi pengeluaran dana dari APBD untuk Persatuan Sepakbola kota/kabupaten setempat banyak tim-tim perserikatan dari kota kecil yang mengundurkan diri dari kompetisi sepakbola nasional akibat tidak adanya dana.Ironis memang ,namun untuk mencapai kemajuan dalam persepakbolaan nasional,setiap tim harus berbentuk PT (Perseroan Terbatas) dan mencari pendanaan sendiri seperti halnya perusahaan.

Dalam kurun waktu 5 tahun ini,kompetisi sepakbola nasional mengalami kemajuan pesat dalam segi kualitas permainan,prestasi,kemapanan ekonomi pemain,perekrutan pemain asing,dan yang lebih penting adalah pengakuan dari AFC bahwa kompetisi sepakbola Indonesia masuk dalam 4 besar kompetisi elit di benua Asia,sehingga Indonesia dapat mengirimkan 2 tim ke kancah Liga Champion Asia.Dan pada tahun 2007 Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah Piala Asia.

Dari dasar inilah penulis ingin menggugah masyarakat Indonesia untuk mendukung dan peduli terhadap persepakbolaan nasional minimal tidak ada rasa sinis dan acuh atau pikiran negative tentang persepakbolaan nasional.Suatu bangsa akan mencapai masa kejayaan apabila bangsa tersebut memiliki rasa nasionalisme.Untuk itu sebagai warga negara yang peduli terhadap bangsanya penulis ingin menggugah semangat nasionalisme masyarakat Indonesia melalui himbauan cinta sepakbola nasional.Tak dipungkiri lagi bahwa sepakbola adalah pemersatu bangsa,sebagai contoh Irak menjuarai Piala Asia 2007,yang sedang dilanda perang dan pertikaian etnis Irak (Sunni,Syiah dan Kurdi).Semua pemain dan rakyat Irak bersatu meninggalkan identitasnya untuk berjuang dan mempersembahkan trofi Piala Asia 2007.Fantastis !!!

Penulis harap kejadian tersebut menimpa Indonesia ditengah gersangnya prestasi timnas dan lunturnya rasa nasionalisme.Amien !!!

FEATURE

DILEMA TUGAS DOSEN KILLER

Dini hari yang dingin menusuk sampai ke tulang,di suatu tempat di bilangan jatiwaringin.Terdengarlah suara samar-samar kreeeek…..kreeeek……kreeeek……….Suara itu berulang-ulang dan makin terdengar nyaring serta membangkitkan bulu kuduk kami.Seperti adegan dalam film,kami pun saling bertengokan dengan mimik wajah yang dipenuhi rasa curiga dan waswas.Namun sesaat itu juga suara itu menjauh dan menghilang dengan sendirinya,kami pun focus kembali dengan pekerjaan yang masih menumpuk.Apalagi ditengah kesunyian, kami menyetel winamp dengan suara setengah pol,otomatis malam itu hanya terdengar musik dan perbincangan kami.Senda gurau dan gelak tawa mampu meredam hawa mistis yang barusan saja terjadi..Obrolan ngaler-ngidul yang tidak jelas bercampur suara menguap kami yang diserang kantuk membuyarkan fokus kita.Penglihatan sudah berbayang dan pendengaran pun menjadi terasa tersumbat walaupun lima cangkir kopi dan sebungkus rokok telah kami habiskan untuk mengalahkan rasa kantuk.Akhirnya,tiga dari lima orang telah menuju ke alam bawah sadar.Dimulai dari Safriadi yang memang dari pagi sampai sore sibuk mengetik serta kebiasaan di waktu malam menelpon para target cinta tak kuasa menerima panggilan dewa mimpi.Sedangkan Triana yang baru saja datang dari tempat kerjanya mulai condong kepalanya ke lantai karena tak daya menjaga kesimbangan badannya walaupun saat kepalanya menunduk dia sempat terbangun karena kerasnya tarikan ruas tulang lehernyaKami pun tertawa melihat Triana yang sebenarnya kami tak tega melihatnya.Kalaupun Irman,dia hanya segar bugar pada awal-awal perbincangan namun setelah perbincangan agak meredup karena peserta lain sudah meninggalkan arena.Ibarat mesin,tubuhnya otomatis merebahkan diri dengan kebiasaan telungkupnya.Tak lama kemudian dia sudah tak sadarkan diri.Tinggal kami berdua,penulis dan Fauzan.Penulis pun masih meladeni perbincangan Fauzan yang sedang asyiknya main game Onet disertai isapan rokok mild dan seruputan kopi ABC susu.Terkadang kita hanyut dalam alunan musik computer dengan nyanyi bareng.Pada saat itu Album Peterpan “Alexandria” menjadi hits.Duet pun terjadi antara penulis (@sk) dan Fauzan (deway).Memang Fauzan lebih terampil dalam begadang karena ia sering ditegur Rhoma Irama. Saling sahut-menyahut sebagai respon dari obrolan kami guna memperpanjang nafas kesadaran.10 menit lagi akan masuk waktu Subuh.Penulis pun agak mengendorkan syaraf guna merilekskan tubuh.Tentunya unuk menunggu adzan Subuh.Tapi penulis mengalami masa yang sangat indah pada saat tersebut.Pikiran @sk melayang jauh tinggi.Badan ini sangat ringan terasa lepas semua beban.Tak berpikir lagi tentang Fauzan sang lawan………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………Tiba-tiba sinar terang menyoroti penulis betapa indahnya saat itu.@sk mulai merespon sinar tersebut dengan merangkak ke arah jendela……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..Astagfirulloh,diluar sana terang benderang.Spontan penulis melihat waktu di HP.Untung saja masih jam mailto:06.20%20karena%20belum%20ada%20mahasiswa%20yang%20datang%20ke%20kampus%20hanya%20mang%20Andi,Pak%20Ucu%20dan%20mas%20Roni%20yang%20memergoki%20penulis%20saat%20jalan%20menuju%20masjid.@sk langsung bergegas ke masjid selain untuk cuci muka juga untuk solat subuh lah! Setelah @sk kembali ke BEM,anak-anak berduyun-duyun ke masjid

Sungguh campur aduk rasanya mengerjakan tugas Rancangan Percobaan yang dikomandani Mr.Meno Boer.Mungkin baru kali ini kami mendapat dosen killer yang kami anggap ortodox.Namun banyak sekali kenangan,kesan dan hikmah dari hal ini.

Pertama,menjadikan kita kembali lagi rajin menulis.Hal ini dikarenakan tugasnya harus dalam berupa tulisan tangan dalam buku besar minimal 200 lembar.Berbagai sumber tulisan mulai dari buku paket,kopian dari internet dan fotokopian tugas teman cewe,ataupun hanya sekedar karangan asal-asalan sekedar memenuhi halaman buku tugas.

Kedua menggiatkan kuliah kami yang bolong-bolong karena pada saat itu adalah masa semester kejenuhan.Namun dengan perjanjian sang dosen satu kali alpa,hukumannya E.Siapa coba yang mau nantang maut??? Ya setidaknya dalam sepekan, kami kuliah hanya pada mata kuliah Mr.Meno.Yang lain up2u?

Ketiga adalah memupuk kebersamaan diantara kami (mahasiswa matematika 2005 UIA).Dengan adanya tugas yang banyak serta intimidasi sang dosen,kami para lelaki yang katanya lebih malas ,mengerjakan bersama tugas itu di sekretariat BEM FMIPA semalam suntuk sehari sebelum kuliah Mr.Meno (nginep gitu lho).

Keempat adalah sebagai inspirasi kita dalam berkarya.Tentu belum pada tahu bahwa kami pada saat itu selain mengerjakan tugas juga menjadi dokumenter.Ya,walaupun alat perekamnya dari HP namun banyak sekali video kami yang dibuat pada saat sebelum Mr, Meno masuk kelas dan pada malam saat kami mengerjakan tugasnya di BEM..Video itu memang jauh dari kualitas professional namun hal itu menjadikan video kenangan dapat kami perlihatkan ke anak cucu.Dimana dalam video itu,kami menampilkan adegan alami tanpa jaim.

Demikianlah sepenggal cerita kami tentang menghadapi tugas dari dosen killer.Rasanya ingin kembali mengulang masa itu ditengah kesibukan dan kegalauan kami dalam menghadapi masa skripsi.Tugas dosen killer memang menimbulkan dilema.Di satu sisi kita ada rasa pamrih dalam mengerjakan tugasnya di sisi lain kita terbiasa mengerjakan tugas tepat waktu yang otomatis minimal ada sedikitnya manfaat bagi kita.

Hikmah yang dapat kita ambil

  • Jangan membeda-bedakan dosen
  • Kerjakan tugas sesegera mungkin
  • Biasakan belajar dengan metode Banyak dan Sering
  • Belajar adalah ibadah jadi jangan tinggalkan ibadah yang lain

NB : Bagi yang tersebutkan namanya di cerita ini.Dengan tidak mengurangi rasa hormat,penulis meminta maaf.Semua karakter dari tokoh diatas adalah fakta.Bukan untuk menyudutkan,tetapi itu adalah realita yang ada di kehidupan.Semoga menjadi pembelajaran bagi kita semua.Amien !!!!!!!!.

By : Agung SK (@sk)