Nu Tos Ningal Ieu Blog

Sabtu, 04 Desember 2010

Sajarah Bojong Gede & Depok


Sejarah Bojonggede tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kota Depok yang
terbagi dalam beberapa fase :


I. Depok pada Zaman Prasejarah
Bahwa penemuan - penemuan benda bersejarah di wilayah Kota Depok menunjukkan
bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah hal ini terlihat dengan
adanya penemuan ahli sejarah, peninggalan - peninggalan benda bersejarah di
Depok dan sekitarnya antara lain Menhir " Gagang Golok", Punden berundak "Sumur
Bandung", Kapak Persegi dan Pahat Batu yang merupakan peninggalan zaman megalit
serta Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakn zaman peninggalan
Neolit.

II. Depok pada Zaman Padjajaran

Pada akhir abad ke-15 Kerajaan Padjajaran diperintah oleh seorang raja yang
diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan yang lebih dikenal dengan
gelar Prabu Siliwangi.( Kerajaan Pajajaran, berkuasa sejak tahun 1482 hingga
tahun 1579). Pelantikan raja yang terkenal sebagai Sri Baduga Maharaja, menjadi
satu perhatian khusus. Pada waktu itu terkenal dengan upacara Kuwedabhakti,
dilangsungkan tanggal 3 Juni 1482. Tanggal itulah kiranya yang kemudian
ditetapkan sebagai hari Jadi Bogor yang secara resmi dikukuhkan melalui sidang
pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972).



Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda
dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan
sebutan "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani).
Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis
Carita Parahiyangan memang berkaitan dengan hal ini.

Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan
atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, berasal dari Kerajaan
Tanjung Barat yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekarang.
Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati yang ke semuanya
penguasa di Tanjung Barat.


Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua
kerajaan ini terdapat beberapa kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan
Kerajaan Padjajaran diantarnya adalah Kerajaan Muara Beres di Desa Karadenan
(dahulu Kawung Pandak). Ini sangat penting artinya pada zaman Padjajaran karena
sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan
terhadap serangan pasukan Jayakarta yang di bantu oleh Demak, Cirebon dan
Banten.
Di Muara Beres ini bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke
Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota
pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC
tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut jalan
Banten lama (oude Bantamsche weg)].


Depok berjarak ± 13 kilometer sebelah utara Muaraberes jadi wajar apabila Depok
dijadikan front terdepan buat tentara Jayakarta pada waktu berperang dengan
Padjajaran.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan :


1. Masih terdapatnya nama - nama Kampung/Desa yang menggunakan bahasa Sunda
antara lain Parung Serang, Parung Belimbing , Parung Malela, Parung Bingung ,
Cisalak, Karang Anyar dan lain - lainnya.
2. Di desa Nangerang dan Kawung Pundak sampai sekarang masyarakatnya masih
mengunakan bahasa sunda dalam pergaulan sehari - hari.
3. Dr. NJ Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran
di Nangela, cincin emas tersebut sekarang tersimpan di museum Jakarta.
4. Pada tahun 1709 Abraham Van Riebeeck telah menemukan sebuah benteng kuno
peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
5. Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata -
senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata - senjata ini mereka terima
secara turun - temurun.


III. Depok Pada Zaman Islam

Pengaruh Islam di Depok diperkirakan ada sekitar tahun 1527 dan masuknya agama
islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten terhadap VOC yang pada waktu
itu berkedudukan di Batavia. Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta
direbut VOC harus melalui jalan darat, sebagai jalan pintas yang terdekat yaitu
melalui Depok . Karena itu tidaklah mengherankan kalau di Depok dan Sawangan
banyak peninggalan - peninggalan tentara Banten. Hal ini terbukti dengan adanya
peninggalan - peninggalan berupa :


1. Antara Perumnas Depok I dan Depok Utara terdapat tempat yang disebut Kramat
Beji, disekitar tempat tersebut terdapat 7 buah sumur yang berdimeter ± 1 meter
dan dibawah pohon beringin terdapat sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci,
didalam bangunan terdapat banyak sekali senjata kuno yaitu keris, tombak dan
golok. Dari peninggalan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa orang - orang yang
tinggal di daerah tersebut bukanlah petani tetapi tentara pada jamannya.
Menurut keterangan Kuncen Kramat Beji yang disampaikan secara turun - temurun
bahwa di tempat ini sering diadakan pertemuan antara Banten dan Cirebon, jadi
senjata tersebut merupakan peninggalan tentara Banten waktu melawan VOC dan
ditempat semacam ini biasanya diadakan latihan bela diri dan pendidikan agama
yuang sering disebut padepokan, jadi nama Depok kemungkinan besar dari
Padepokan Beji.


2. Di Kawung Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno, Masjid ini merupakan
Masjid pertama di Bogor. Bentuk Masjid ini masih sesuai dengan bentuk aslinya
walaupun telah beberapa kali direnovasi. Menurut keterangan pengurus masjid ini
dibangun oleh Raden Safe'i cucu Pangeran Sangiang, Pangeran Sangiang ini dalam
sejarah bergelar Prabu Surawisesa. Ia pernah menjadi Raja Mandala di
Muararebes. Di rumah - rumah penduduk disekitar Masjid ini masih terdapat
senjata - senjata peninggalan zaman Padjajaran, juga terdapat beberapa buah
kujang. Jadi Masjid dibangun oleh tentara Padjajaran yang masuk Islam kurang
lebih sekitar tahun 1550. Lokasi Masjid ini dengan Bojonggede hanya terhalang
oleh sungai Ciliwung. Jadi pengaruh Islam masuk di Bojonggede sudah cukup lama.


3. Di Bojonggede terdapat makan Ratu Anti, nama sebenarnya Ratu Maemunah
seorang prajurit Banten yang berjuang melawan tentara Padjajaran di Kedungjiwa.
Setelah perang selesai suaminya (Raden Pakpak) menyebarkan agama Islam di
Priangan sedangkan Ratu Anti sendiri menetap di Bojonggede sampai meninggal.
Ratu Anti salah seorang yang menyebarkan agama Islam di Bojonggede.



Dikutip ti: Indra Gunawan

Label: Bojonggede, Sejarah

Tidak ada komentar: